Pergulatan Mencari Kebenaran: Apa yang sedang Kamu cari Rakyat Papua Barat?

Pergulatan Itu Dinamika Abadi
Sejarah kehidupan manusia telah dilumurih dengan berbagai dinamika. Dinamika itulah yang telah memberikan kehidupan ini begitu berwarna. Karena memang hidup ini berwarna maka semua manusia sering terbuaih dalam warna itu. Betapa tidak, kita bisa menyaksikan hidu ini berputar bagaikan rodakereta. Roda itu sebentar berputar ke atas dan ke bawah, sebentar menginjak lumpur dan sebentar tanah kering, sebentar menginjak lembah dan sebentar mengitari perbukitan, akhirnya semua seluk beluk dunia ini bisa dijangkau. Mengapa roda itu mau menginjak sambil mengitari begitu banyak permukaan bumi ini?

Bisa kita saksikan dalam sejarah, tatkala dinamika itu terjadi. Lihat saja, pernah terjadi kehidupan manusia dalam suasana damai dan tenteram, pernah juga terjadi peperangan dan kelaparan. Tak jarang manusia tak luput dari kebecian dan balas dendam, tetapi juga sering ada cinta dan kasih. Semuanya ini memang diciptakan untuk terjadi. Sehingga ketika hal itu terjadi, maka kita jangan pernah kaget setengah mati. Ini memang sudah biasa dalam sebuah kehidupan. Namanya saja sebuah dinamika kehidupan.

Barangkali yang perlu kita tanyakan – banyak orang bartanya – mengapa semuanya itu terjadi? Atau bisa jadi orang bertanya apakah semuanya itu harus terjadi? Jawaban paling lengkap bisa kita peroleh dari “Orang Yang Telah Menjadikan Dinamika Itu Sendiri”. Tetapi untuk memperoleh jawaban dari-Nya, apakah kita mampu untuk bertanya? Ataukah kita hanya mampu untuk berkeluh kesah dalam hidup ini? Entahlah! Tetapi, tidak. Kita harus menemukan dinamika hiduip itu sendiri. Kita jangan hanya bisa berharap dan berkeluh kesah saja. Kita harus memahami arti sebuah kehidupan.

Jangan pernah berpikir bahwa hidup ini akan berubah warna dalam sekejap saja. Jangan bermimpi hidup ini akan selalu damai dan tenteram. Jangan kira “hidup ini enak-enak” saja. Tidak. Hidup ini memang sangat susah dipahami. Ada musim hujan, ada musim semi ada panas dan musim gugur; ada saat tertawa, ada saat berduka; ada saat kenyang, ada saat lapar; ada saat cinta dan kasih menjadi nyata, tetapi jangan lupa ada saat cinta itu berubah menjadi kebencian dan dendam. Itulah hidup. Dia adalah kekal. Dia akan selalu terjadi di dalam sesuatu yang namanya “kehidupan” itu. Ya, dia sudah, sedang dan akan terjadi.

Yang menjadi masalah sekarang adalah mengapa pergulatan antara semuanya itu terjadi? Ya, jika kita tidak mau berpikir jauh, maka bisa kita katakan : semuanya itu memang ada dalam sebuah kehidupan. Tetapi, barangkali yang penting juga adalah pergulatan itu dalam upaya untuk menemukan sebuah nilai. Nilai yang ingin dicari dalam pergulatan itu adalah sesuatu yang inti dari sebuah kehidupan. Nilai itu memberikan sebuah kehidupan yang memberikan kelegahan. Jadi, singkatnya adalah dinamika itu boleh terjadi tetapi yang penting adalah dalam semuanya itu bertujuan untuk memperoleh arti kebenaran yang mutlak. Sehingga yang penting adalah biarkalah dinamika itu terjadi, tetapi dalam semuanya itu yang lebih penting adalah dalam upaya menemukan inti sebuah kehidupan. Ini adalah tugas pengembaraan manusia di dunia ini dalam upaya menuju “titik pemberhentian terakhir”. Disana tidak akan ada dinamika lagi, karena yang menang adalah “kebenaran” itu sendiri. Dia adalah dinamika tunggal, karena dia telah menang. Dan memang inilah yang dicari, yang merupakan sebuah hasil dari pergulatan dalam kehidupan manusia itu sendiri.


Papua Barat melawan Dunia
Masa sekarang merupakan masa pergulatan. Pergulatan itu sedang teradi di mana-mana di seluruh belahan dunia. Masih saja terjadi perang
Israel versus Palestina, Amerika versus Irak dan Amerika versus teroris (teroris menurut versi Amerika). Tidak jarang ada konflik antar etnis masih sangat subur di bumi Negro Afika. Di Indonesia masih ada perang Indonesia versus GAM (separatis versi Indonesia), juga masih ada pembantaian rakyat Papua Barat (pengkhianat bangsa versi Indonesia).
Ada juga perang ideologi. Lihat saja Demokrasi Liberal versus Islam, Kapitalis versus Sosialis, nasionalis Papua Barat versus nasionalis Indonesia. Lagi-lagi ada perang karena ini dan itu dengan berbagai dinamika yang menempel dan memberikan nilai padanya. Semuanya ini telah, sedang akan selalu terjadi dalam sesuatu yang namanya kehidupan ini. Dari semuanya ini, ada satu pertanyaan pokok : apa yang sedang dicari oleh manusia? Pertanyaan lanjutan dari pertanyaan pokok : siapa atau mana yang paling benar dan siapa atau mana yang paling salah?
Lagi-lagi ini semua pergulatan. Sekali lagi saya mau bilang : inilah dinamika sebuah kehidupan. Tetapi dalam sebuah dinamika kita harus menemukan sebuah kebenaran. Untuk itu semua pergulatan hidup ini harus dicari akar masalahnya. Untuk menemukan akar masalah ini tentunya bukan sebuah pekerjaan mudah, tetapi itu bukan sebuah alasan untuk menyerah. Kita harus mencoba menemukan sebuah kebenaran dalam setiap pergulatan. Namanya saja usaha.

Mari kita berbicara kasus Papua Barat. Saya lebih sepakat – juga banyak kalangan – bahwa musuh utama Papua Barat bukan hanya
Indonesia. Kata lainnya, Indonesia bukan musuh tunggal Papua Barat. Oleh karena itu, saya lebih suka untuk mengusulkan musuh utama Papua Barat adalah “dunia”. Dunia artinya negara, bangsa, etnis, agama, lembaga atau apapun namanya yang ada di dunia ini yang mempunyai “niat buruk” terhadap Papua Barat. Ini semua adalah musuh Papua Barat.
Mengapa mereka ini adalah musuh? Jawabannya, karena mereka punya niat buruk untuk Papua Barat. Niat buruk untuk Papua Barat adalah dosa dan itu sesungguhnya dilarang oleh semua hukum yang ada di atas bumi maupun yang ada di Sorga (kecuali hukum karet bikinan kaum munafik).

Dunia telah melakukan dosa terhadap Papua Barat dan segala isinya (manusia, hewan, tumbuhan, tanah dan semuanya). Pertama kali dosa itu dilakukan oleh mereka yang datang dari negeri Barat (kolonial), entah yang datang sebagai penyiar agama maupun sebagai apa saja. Boleh saja agama disiarkan, tetapi yang jadi pertanyaan adalah : apakah memang benar menyiarkan agama adalah niat tunggal ataukah masih ada kepentingan di dalamnya? Jika memang ada kepentingan ekonomi, maka ini adalah dosa. Heran, katanya datang untuk memberikan pertobatan tetapi rupanya mereka menjadi pembuat dosa ulung. Ini namanya munafik. Artinya, melakukan dosa “atas nama Tuhan”.

Selanjutnya, beberapa negara – baik atas nama pribadi atau bangsa – misalnya Belanda, Spanyol, Portugis, Inggris, Jepang dan Australis melakukan dosa terhadap orang Papua Barat di Papua Barat. Mereka berebutan mengambil apa saja yang ada di tanah Papua Barat. Mereka sama sekali tidak sadar kalau di tanah itu ada penduduk asli Papua Barat, yang mana semua barang yang mereka rebut itu milik penduduk asli situ. Hai, manusia-manusia di manakah otak dan hatimu jika kalian punya otak dan hati? Lagi-lagi orang Papua Barat dibuat tidak berdaya.

Dalam dekade berikutnya, datanglah orang-orang
Indonesia. Mereka datang dengan berbagai alasan. Alasan yang lebih manusiawi – menurut mereka – adalah : ingin membebaskan saudara-saudaranya dari penjajah. Alasan ini yang sering membuat saya “jengkel setengah mati”. Membebaskan saudara-saudaranya inilah yang mereka buktikan dengan membunuh saudara-saudaranya? Hebat benar kemanusiaan Indonesia, hebat juga karena mau masih bilang “saudara”, paling hebat karena mereka mau menghargai orang yang sama sekali berbeda dengan mereka.
Jadi apakah memang benar
Indonesia adalah bangsa yang hebat? Apakah benar mereka pernah menghargai para pengemis di setiap pinggir jalan di Jawa? Apakah benar bereka lebih menghargai orang Papua Barat yang jauh dari Jakarta sambil mengabaikan pengemis di Jakarta? Hebat benar kemanusiaan Indonesia ini. Sesungguhnya ini sebuah alasan konyol yang sok manusiawi.
Yang dicari oleh bangsa, negara, orang
Indonesia adalah “kekayaan alam” Papua Barat. Maklumlah, semua yang ada di Jawa telah dikuras oleh Belanda jadi sekarang mereka mau menguras apa yang ada di Papua Barat. Rupanya Indonesia adalah murid yang baik, yang mau mengikuti jejak gurunya Belanda. Tetapi saya sangat tidak heran dengan karakter bangsa Indonesia. Mereka biasanya teladan dalam segala hal, termasuk dalam hal “balas dendam”. Jangan pikir mereka sopan dan alim-alim di muka umum, mereka akan menyimpan dendam dan akan membalas jika ada waktu. Itulah Indonesia dan itulah yang sedang diterapkan di Papua Barat.
Jika ingin mengenal karakter orang
Indonesia, maka pelajarilah orang Jawa. Contohnya begini : jika kita secara tidak sengaja menginjak kaki mereka, mereka akan mengatakan “tidak apa-apa”. Tetapi, sesungguhnya mereka “marah setengah mati” dalam hati sambil mengeluh “kamu tunggu saatnya yang tepat, aku pasti membalas”. Ini adalah dendam, dan dendam orang Jawa (Indonesia) itu biasanya tersimpan dalam hati seumur hidup.
Jadi, yang jelas
Indonesia punya dendam sejarah terhadap penjajah Belanda. Dendam itu ingin mereka muntahkan tetapi sial sekarang Indonesia tidak punya daya terhadap Belanda. Salah satu jalan untuk memuntahkan dendam itu adalah “menjajah Papua Barat”. Inilah yang sadang terjadi dan memang benar mereka sedang membalas dendam sejarah. Aneh tapi nyata. Sehingga satu hal yang pasti : Indonesia ke Papua Barat untuk menjajah bukan memerdekakan. Ya, keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Itulah nasib Papua Barat kini dalam gigitan maut Indonesia. Lagi-lagi ini pergulatan.
Dalam sejarah Papua Barat juga banyak kali orang Papua Barat melawan dunia (negara, bangsa, golongan, ideologi, agama, pribadi atau apa saja yang memang melekat di dunia ini). Orang Papua Barat pernah jadi korban sejarah, korban politik, korban ideologi, korban ekonomi dan korban apa saja. Kita tahu, rakyat Papua Barat ditipu oleh Amerika Serikat,
Belanda, Indonesia dan PBB. Mereka yang membicarakan masalah Papua Barat. Aneh, sepertinya mereka membicarakan masalah mereka saja. Mereka pikir tanah Papua Barat itu tanah air mereka.
Apakah mereka membicarakan nasib Tanah Jawa? Apakah mereka membicarakan nasib tanah Deen Haag? Apakah mereka pikir mereka membicarakan nasib tanah
California? Apakah mereka pikir mereka membicarakan nasib taman bunga depan Gedung PBB di New York? Siapakah mereka sehingga mereka mau megurus tanah orang lain? Apa yang sedang dicari oleh mereka? Kitab Suci mana dan ayat/pasal mana yang memberikan mandat kepada mereka untuk membicarakan tanah Papua Barat? Perintah Tuhan lewat Nabi siapa yang mereka praktekkan? Jadi apa yang mereka cari di Papua Barat. Ini adalah pergulatan dalam sebuah dinamika kehidupan.
Sekarang banyak orang yang mulai berbicara masalah Papua Barat. Indonesia mengatakan “Papua Barat adalah final dalam NKRI”, Amerika mendukung dengan mengatakan “Otsus jalan terbaik”, Parlemen Eropa bilang “kami tidak mendukung Papua Barat merdeka”.
Ada apa dengan mereka semua? Apa yang mereka cari?
Semuanya dilandasi oleh “kepentingan”. Affan Gafar bilang : dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Memang benar.
Indonesia punya kepentingan di Papua Barat, Amerika punya kepentingan di Papua Barat, Parlemen Eropa punya kepentingan di Papua Barat, pokoknya semua punya kepentingan di Papua Barat. Terus siapa atau mana yang benar dan siapa atau mana yang salah? Lagi-lagi ini pergulatan.  

Apa yang sedang Dicari oleh manusia?
Barangkali Amerika pikir, ah, kalau Papua Barat merdeka pasti
Freeport tidak aman dan Amerika rugi kalau tunggu sampai Papua Barat merdeka. Hal ini sesuai dengan logika berpikir ideologi kapitalis : maunya instant. Artinya, kalau tunggu sampai Papua Barat merdeka, itu berarti memakan waktu yang cukup lama jadi Amerika bisa rugi. Memang kapitalis selalu identik dengan nafsu. Atau lebih tepatnya : kemanusiaan no, kebendaan yes. Begitu seterusnya juga dengan negara, bangsa, golongan lain yang tidak menghendaki Papua Barat merdeka. Jadi mandat dari alam mana yang mereka ingin terapkan di Papua Barat? Apakah mereka punya kuasa yang mereka peroleh dari Sorga? Atau Neraka? Atau Kayangan? Atau alam mana? Barangkali alam otak dan hati mereka? Entahlah, yang jelas begitulah mereka.
Dampak dari semuanya itu adalah derita. Rakyat Papua Barat menderita setengah mati, rakyat mati dibunuh bagaikan binatang yang tak berdaya, alam Papua Barat dirusak. Jika semuanya seperti ini, apakah orang Papua Barat diam saja? Ataukah memang “harus” terjadi seperti itu? Aneh, tapi nyata
kan? Rakyat Papua Barat menjadi manusia tak berdaya di negeri leluhurnya sendiri. Mereka hanya bisa mengeluh siang dana malam, tetapi tidak tahu keluhan mereka itu disampaikan kepada siapa. Mereka mengeluhg kepada Tuhan, tetapi merekla bilang pintu Sorga telah tertutup. Mereka mengeluh kepada manusia, tetapi telinga manusia telah menjadi batu. Lalu mereka mengeluh kepada siapa? Inilah dinamika sebuah kehidupan.
Sekarang semua pergulatan itu semakin gila-gilaan.
Indonesia masih kepala batu dan tidak mau lepaskan Papua Barat. Dunia barat mulai buka mata lebar-lebar sambil menelan air liur untuk mencuri Papua Barat. Rakyat Papua Barat juga keras kepala untuk melawan dunia.. Bagaimana ini sekarang?

Apa dan Siapa yang Menang?
Ada sesuatu yang sedang dicari dalam pergulatan ini. Ada sebuah nilai yang bisa menang untuk mengalahkan semua pergulatan ini. Wajar saja semua ini terjadi, wajar jika memang Indonesia masih pepala batu, wajar jika negara barat sok tahu terhadap Papua Barat. Semuanya wajar. Tetapi itu akan menjadi tidak wajar ketika “sesuatu” akan menang mengalahkan semuanya itu.
Kita tidak tahu yang akan menang itu apa dan siapa? Tetapi yang akan menang itu bukan orang Papua Barat saja, tetapi manusia semesta, karena kemenangan itu milik semua orang. Yang memang itu adalah “kebenaran”. Kebenaran itu milik semua orang, bangsa, negara dan alam semesta. Milik abang becak, mikik Mr. Bean, milik petani miskin di Guetemala, milik pelacur di sudut-sudut
kota, milik nara pidana di penjara dan akhirnya milik alam semesta.
Kemenangan itu bukan Papua Barat Merdeka. Papua Barat Merdeka adalah “sisi kelihatan” dari kemenangan itu. Tetapi “sesuatu” yang melandasi kemerdekaan Papua Barat itu adalah milik semua umat manusia dan alam semesta. Dia bisa mengalahkan siapa saja. Dia bisa melawan TNI/BIN milik Indonesia, bisa mengalahkan senjata nuklir, bisa mengalahkan orang terkaya nomor satu di dunia, bisa mengalahkan petinju ternama Mike Tyson, bisa mengalahkan
kerakusan manusia ala manusia Indonesia. Ya, dia bisa mengalahkan semuanya.
Memang benar hidup ini sebuah dinamika. Tetapi dalam dinamika itu, apa yang sesungguhnya dicari oleh manusia yang sebenarnya tidak nampak? Dia adalah sebuah nilai kebenaran. Nilai itu melekat pada manusia, hewan, binatang dan benda mati. Pada diri mereka ada nilai kebenaran. Untuk menemukan semuanya itu pada diri mereka memang tidak mudah. Tetapi sesungguhnya ketika itu semua ada pada mereka, maka itu menjadi pertanda bahwa : kita sedang mencari sesuatu itu. Tetapi sial, dasar manusia, hanya mau bikin hidup ini
kacau balau.

Boleh saja manusia mau membuat dunia ini putar balik dalam berbagai bentuk dan itu menjadi pertanda bahwa hidup ini sebuah dinamika. Tetapi, dalam semuanya itu hanya ada satu nilai kebenaran. Dan kemenangan untuk mendapat nilai kebenaran itu selalu ada waktunya. Sehingga tidak salah jika orang bilang : segalanya akan menjadi indah pada waktunya.

Untuk memperjelas bahwa hidup ini memang sebuah dinamika, yang mana ada saat manusia berduka dan aka saat manusia bersuka ria. Maka saya mengutip sebuah puisi yang dibacakan oleh Rigoberta Menchu – pemenang hadiah nobel perdamaian tahun 1992 atas perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan pemerintahan militer Guetemala terhadap petani-petani miskin Indian – sebagai pengganti pidato ucapan terima kasih, ketika ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas UCA Managua, sebuah perguruan tinggi di Amerika Tengah, tanggal 10 Oktober 1992.

Telah kuseberangi batasmu, Guatemala.
Aku tak tahu, kapan aku akan kembali padamu
Mungkin di musim panas, ketika nenek bulan dan bapa matahari masih bersalam-salaman dalam gelap tamaran dan kelap-kelip bintang-bintang.

Kala itu musim penghujan

Tanaman labu akan berbuah, yang telah ditiadakan oleh berondongan peluru tentara… kawanan lebah akan kembali

Ngeri oleh demikian banyak pembantaian dan kekejaman mereka telah terbang mengungsi

Telah kuseberangi batasmmu, Guetemala,
Dengan perbedaan harga dirimu. …

Ibu kami sedih kenyang meminum darah, siang malam tiada henti tangisnya, tiada putus sedihnya

Bila nanti aku kembali, bersamanya kubawah pulang daya hidup yang baru

Ranselku akan kembali di tempat, di mana duluh dia berada, apapun yang terjadi

Telah kuseberangi batasmu, Guetemala.
Besok aku akan kembali

Bila ibuku yang disiksa-dianiaya hidup lagi, bila ayahku yang dibakar hidup-hidup bangkit kembali bersama rekah pagi

Untuk sujud di hadapan matahari di keempat sudut lahan kecil kami …

Agar terang bertebaran di jalan curam, jalan-jalan setapak di dataran batu
berhambar

Melalui barisan puisi di atas, kini telah nampak bahwa kemenangan akan datang pada suatu masa. Saat itu semua kelaliman, kebohongan dan kerakusan manusia akan bertekuk lutut di depan sebuah “kebenaran” dan dia akan menang untuk sepanjang masa dalam setiap dinamika kehidupan manusia. Mari kitatunggug waktunya tiba.
Saya pikir seperti itu dulu! ***

Published in: on Januari 3, 2008 at 3:58 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Mengoreksi Diri dan “Mengore” Indonesia untuk Papua Barat Merdeka

Paerjuangan Papua Merdeka pada umumnya merupakan masalah dua kelompok besar (Indonesia dan pendukungnya dengan pilihan INTEGRASI sebagai pilihan politik yang final di samping itu sebagai versus-nya adalah Papua Barat dan pendukungnya dengan pilihan MERDEKA sebagai pilihan politiknya yang final). Kedua kelompok ini sudah, sedang dan akan saling mempertahankan diri dengan berbagai alasan mulai dari yang masuk akal hingga sangat tidak masuk akal. Namun, pada kesempatan ini saya ingin menymbangkan – walau agak tak pantas sebagai suatu sumbangan pemikiran – beberapa ide saya yang harus kita (Orang Papua Barat) perhatika sebagai pedoman dalam menuntut kemerdekaan Papua Barat.

Mengoreksi Diri
Orang yang tidak pernah malakukan kesalahan adalah orang yang sangat diragukan akan KEMANUSIAANYA. Orang yang tidak pernah salah adalah orang yang sama sekali tidak pernah hidup. saya pikir kita semua orang Papua Barat (terlebih saya sendiri) PERNAH BAHKAN BIASA BERBUAT SALAH. Kesalahan apa yang kita orang Papua perbuat dalam menuntut kemerdekaan Papua Barat? Saya rasa sangat banyak kesalahan. Sebagai contoh : banyak pejuang yang berjuang untuk kepentingan perut, kita banyak bicara tanpa banyak bertindak, banyak kesalah pahaman atas apa yang kita diskusikan, ketakutan yang merajalela dan lain sebagainya. Semuanya ini hanya contoh PALING SEDIKIT DARI YANG PALING BANYAK yang sempat melintas di depan otak yang yang kebetulan saya tangkap. Tentunya kita semua belum melakukan semua kesalahan semacam ini, artinya kita tidak semua bersalah. Tetapi betapapun kecilnya suatu kesalahan akan menyebabkan kogoncangan/kehancuran dalam diri kita orang papua sendiri. Ingat semua yang kita lakukan entah baik atau buruk sangat kita perlukan. Kita perlu sebuah kesalahan/kekeliruan. Jika kita salah dan keliru, maka saat itu adalah kesempatan emas bagi kita untuk bangkit. Memang kita harus bersalah dan keliru ketika kita mau maju ke arah pencerahan jiwa dan bangsa sebagai MANUSIA YANG BENAR-BENAR MERDEKA.

Ya, saya rasa banyak kesalahan yang telah kita buat dan walaupun kita menyangkal matian-matian pun hanyalah waktulah yang akan bersaksi pada hari, jam, bulan atau tahun berap kita bersalah. Tetapi baiklah kesalahan itu kita jadikan PELAJARAN BERHARGA. satu hal yang sangat penting kita butuhkan sekarang adalah MENGUMPULAKAN KEMBALI (Rekoleksi) kesalahan kita yang telah kita perbuat dan melakukan suatu perbaikan / pembaharuan diri. Sata sering berpikir alangkah indahnya perjuangan Papua Merdeka jika KITA MENGANDALKAN OTAK DAN HATI DALAM PERJUANGAN. Yang saya amati selama ini (baik diri saya maupun orang lain) adalah BANYAK MENGANDALKAN OTAK TANPA MEMPERDULIKAN HATI. Jika sekarang kita mulai sadar atau paling tidak BELAJAR SADAR dari semua kesalahan kita, maka kita jangan katakan besok apa yang dapat kita kerjakan sekarang. Cukup… cukup… dan cukup jika selama ini kita hanya menjadi MANUSIA BEROTAK TANPA HATI. Memang orang sering katakan jika kita salah, maka pasti kata orang HEI.. PAKE OTAK. Ya, memang benar otak dapat mempengruhi semua cara berpikir kita. Tetapi yang sekarang kita harus usahakan adalah PERJUANGAN PAKE HATI. Pertalihan antara OTAK DAN HATI AKAN MELAHIRKAN MANUSIA YANG BANAR-BENAR MANUSIAWI, dan orang semacam inilah yang kita katakan manusia sejati. Jika dikaitkan dengan perjuangan kita (Papua Merdeka), maka mereka inilah yang akan menjadi pemimpin yang sejati baik dalam perjuangan kita sekarang maupun dalam mengisi kemerdekaan kita nanti. Sungguh perjuangan dengan menyesalih kesalahan masa lalu adalah kunci menuju kesuksesan. Kata kunci yang saya rasa sangat penting adalah “JANGAN MASUK KE LUBANG YANG SAMA”.

Kore Indonesia Cs.
Kore dia sudah…. adalah kata yang sangat pentas kita gunakan ketika kita mulai pasang jurus menghantam Indonesia. Tapi jangan hantam dengan balok atau martelu. Kita hantam dengan hati dan otak. Kini Indonesia dihadapkan pada KEBINGUNAN NASIONAL. Lihat saja dia sudah mulai pusing dan bertindak takaruan saja, penyelenggaraan negara sudah mulai morat-marit, mau darurat sipil tapi aneh dia mau hadapi apa sedangkan rakyat Papua hanya diam nonton dia punya kelakuan itu. Ketika Indonesia mulai bingun mau buat apa, maka kesempatan itu kita gunakan untuk KORE dia terus hingga konsentrasinya hilang. Masalah papua tetap hangat adalah hal yang sangat penting, maka marilah kita semua berjuang sesuai dengan apa yang kita bisa perbuat. Kita semua punya posisi yang tersendiri tetapi sedng berjuang demi satu tujuan. Saya sangat tidsak setuju jika banyak orang berkata : jika berjuang harus masuk ke salah satu organisasi dengan alasan karena itu satu-satunya jalan yang paling efektif. Saya pikir yang bikin efektif itu manusiaya yang bikin efektif, BUKAN organisasinya yang efektif dan manusia hanya ikut organisasi itu. Kadang organisasi juga hanya tempat duduk-dukuk ketika tak ada pekerjaan. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, tetapi hal yang sangat penting adalah KITA SADAR DAN SADAR SERTA BERJUANG DENGAN MULTIFUNGSI TUNGGAL TUJUAN yaitu PAPUA MERDEKA.

Semoga kita sadar, sadar, dan sadar.
Gunakan OTAK DAN HATI DALAM PERJUANGN MENUJU KEMERDEKAAN PAPUA BARAT.

Published in: on Januari 3, 2008 at 1:58 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Arti Sebuah Perjuangan

Dalam berpikir, berbicara dan bertindak untuk kemerdekaan Papua, sebaiknya kita bisa merenungkan enam pertanyaan di bawah ini : Apakah kemerdekaan Papua Barat?  Mengapa Papua Barat ingin merdeka? Siapa yang akan memerdekakan Papua Barat? Dimana Papua Barat akan merdeka? Kapan Papua Barat akan merdeka? Bagaimana Papua Barat akan merdeka?

Kita harus merenungkan keenam pertanyaan di atas ini dalam perjuangan kita menuju kemerdekaan Papua Barat. Hal ini memang tidak muda dan memerlukan suatu perjuangan yang berat dan besar, namun itu bukan bebarti kita harus menyerah dan mundur dari tengah jalan. Kita harus berjuang dengan berbagai cara dan bervariasi cara dengan satu tujuan yakni kemerdekaan Papua Barat.

Suatu ketika seorang teman yang juga aktivis kemerdekaan berkata kepada saya begini “Kamu jangan hanya mengkritik orang saja, tetapi kamu juga harus berjuang” Saya memang tidak paham apa arti kritikan dia dan saya juga terus terang tidak menegrti apa yang dia pahami tentang kata “PERJUANGAN”. Maka ketika dia mengatakan “kita harus berjuang hanya lewat organisasi”, saya sama sekali tidak menerimanya. pendapat dia yaitu “Berjuang lewat organisasi saja”. Hal ini menurut dia karena organisasi adalah “satu-satunya” cara yang efektif. Sejujurnya saya tidak sependapat. Tapi saya sangat berterima kasih sekaligus saya ucapkan banyak penghargaan kepada dia, karena kritik dan saran adalah langkah awal menuju suatu perbaikan dan pembaharuan demi kemerdekaan Papua Barat. Saudaraku Terima kasih, tragampang.

Pendapat saya mengenai hakekat dan arti “Sebuah Perjuangan” adalah “Banyak Jalan Menuju Roma”. Jadi kita kalau bertanya kepada diri kita sendiri demikian “apakah seorang putra Papua yang sedang kuliah, belajar, bekerja, menangis, berpikir dan berdoa serta rindu akan kemerdekaan adalah bukan pejuang kemerdekaan” apakah jawabannya? Saya dengan terus terang dan penuh keyakinan menjawab “mereka pejuang” Mengapa? Ya… setiap orang Papua yang berpikir dan bertindak dengan cara lainpun, jika mereka melakukannya demi satu tujuan kemerdekaan Papua Barat apakah mereka kita lupakan? Tentunya tidak. Mereka kita hargai dan mereka modal kemerdekaan Papua Barat. Jika seorang yang menamakn diri seorang “pejuang sejati” tapi akhirnya dia menjadi pengkhianat itulah yang dinamakan “bukan pejuang”.

Mana yang terbaik “pejuang yang jadi pengkhianat” atau “kelihatannya diam tapi jadi pejuang”? Kita akan memilihnya sendiri sesuai dengan apa yang kita sukainya sesuai dengan hati nurani kita masing-masing. Namun, saya selalu berpendapat bahwa kita semua orang Papua Barat adalah “pejuang” ketika kita belum jadi “pengkhianat”. Jadi semua orang Papua Barat (pelajar, mahasiswa, petani, pelaut,pegawai, TPN/OPM, pengungsi, orang mati/pahlawan bahkan orang gila sekalipun). Ini kita harus akui bersama dan kita harus pertahankan. Artinya, tidaklah salah jika kita semua berjuang dengan cara kita masing-masing, yaitu petani bertani, pegawai kerja kantor, mahasiswa dan pelajar belajar dengan giat, yang berdoa silakan berdoa, yang menangis silakan menangis, yang rindi silakan rindu. Namun, ingat satu syarat yaitu “Demi Kemerdekaan Papua”. jadi sambil kita jalankan profesi kita, kita berpikir dan bertindak untuk kemerdekaan Papua. Itulah hakekat dan arti “perjuangan”. Jadi yang namanya pejuang itu bukan mereka yang sedang bicara banyak dan gabung dalam oranisasi saja, tetapi kita semua dengan syarat “demi kemerdekaan”. Kita menyelam sambil minum air, kita berjuang sambil menjalankan tugas kita yang lain. Mahasiswa dan pelajarkan harus belajar toooo, soalnya kalo kitong su merdeka juga kitong butuh orang pintar juga mooo, begitu juga dengan Orang Papua Barat dengan profesi lainnya. Yang penting kita melalakukan semuanya dengan hati yang tulus dan iklas demi kemerdekaan.

Saya pikir penjelasan singkat saya ini walau hanya “komentar orang gila dan pemberontak” namun terdapat makna yang sangat mendalam dan menjadi misteri buat kita dalam perjuangan yang harus kita perhatikan sekaligus membuka “tabir misteri” demi kemerdekaan Papua Barat.

Hai tanahku Papua kau tanah lahirku, kau hendak kukasihi hingga ajalku.
Published in: on Desember 31, 2007 at 7:44 am  Tinggalkan sebuah Komentar